LAMPUNGID.Com, Lampung Selatan, 26 Februari 2026 — Gelombang kekecewaan dirasakan sebagian masyarakat Desa Kuala Sekampung, Kecamatan Sragi, Kabupaten Lampung Selatan. Aspirasi tersebut mencuat dari sejumlah dusun hingga pusat aktivitas ekonomi warga di Pasar Sukarandeg.
Sejumlah warga yang sebelumnya memberikan dukungan politik kepada Kepala Desa Sugeng Heryanto kini menyampaikan kritik terbuka terhadap kebijakan desa. Mereka menilai perhatian pemerintah desa belum sepenuhnya menyentuh kebutuhan mendasar masyarakat.
Salah satu keluhan yang sering disampaikan adalah minimnya interaksi langsung kepala desa dengan warga dalam beberapa waktu terakhir, sehingga aspirasi masyarakat dinilai kurang terserap secara optimal.
Retribusi Pasar Disorot, Transparansi Dipertanyakan Kebijakan penarikan retribusi bulanan di Pasar Sukarandeg menjadi sorotan utama.
Warga menilai kebijakan tersebut berbeda dengan sistem sebelumnya yang telah berlangsung puluhan tahun tanpa pungutan rutin, sementara kondisi fasilitas pasar dinilai belum menunjukkan peningkatan berarti.Padahal, pengelolaan pasar rakyat telah diatur dalam Peraturan Daerah Kabupaten Lampung Selatan Nomor 9 Tahun 2001 tentang Pasar dan Retribusi Pasar.
“Kami tidak keberatan membayar, asalkan jelas manfaatnya. Faktanya, drainase masih mampet, genangan air muncul saat hujan, dan kebersihan pasar belum tertangani maksimal,” ujar seorang pedagang.
Sejumlah pedagang juga mempertanyakan kejelasan alokasi dana retribusi.
“Kami tidak tahu ke mana dana itu digunakan. Kondisi pasar dan jalan sekitar masih sama,” tambah warga lainnya.
Keluhan tidak hanya datang dari area pasar. Jalan di Dusun Pusingan dilaporkan masih dalam kondisi rusak dan bergelombang.
Warga menilai kondisi tersebut menghambat mobilitas dan aktivitas ekonomi, khususnya distribusi barang menuju pasar.“Akses ini sangat vital. Jalan rusak membuat aktivitas perdagangan terganggu,” ungkap seorang warga.
Selain itu, buruknya sistem drainase pasar dinilai berpotensi menimbulkan dampak kesehatan akibat genangan air yang kerap terjadi saat hujan.
Warga juga menyoroti janji pembukaan lapangan pekerjaan bagi generasi muda desa yang sempat disampaikan saat masa kampanye.
“Janji itu pernah kami dengar, tapi sampai sekarang belum ada realisasi nyata,” kata seorang warga.
Kekecewaan ini dirasakan terutama oleh warga yang sebelumnya menjadi pendukung dalam proses pemilihan kepala desa.
Peran Karang Taruna Dinilai StrategisDi tengah keterbatasan perhatian pemerintah desa, Karang Taruna Desa Kuala Sekampung mulai menunjukkan inisiatif.
Para pemuda menyatakan kesiapan untuk terlibat dalam perbaikan kebersihan pasar, perbaikan jalan lingkungan, serta menjadi jembatan komunikasi antara masyarakat dan pemerintah desa.
“Kami siap bergerak, tapi butuh arahan dan dukungan nyata, bukan sekadar wacana,” ujar perwakilan pemuda.
Masyarakat berharap pemerintah desa segera memberikan kejelasan, transparansi penggunaan dana retribusi, serta langkah konkret dalam perbaikan infrastruktur dan realisasi janji-janji yang telah disampaikan.Sebagian warga mengakui bahwa penertiban pasar merupakan langkah positif. Namun tanpa perbaikan fasilitas dan keterbukaan informasi, kebijakan tersebut dikhawatirkan justru memicu ketidakpuasan berkepanjangan.
“Kami tidak menuntut berlebihan. Yang kami butuhkan adalah kepedulian dan tindakan nyata,” tegas warga.
Hingga berita ini diterbitkan, Kepala Desa Kuala Sekampung belum memberikan keterangan resmi terkait berbagai aspirasi masyarakat tersebut.
(TIM)
