SMKN 1 Kalianda Tegaskan Kunjungan Industri Bersifat Opsional, Bukan Study Tour

Hendra Wijaya
3 Min Read

Loading

LAMPUNGID.COM, KALIANDA – Pihak SMKN 1 Kalianda memberikan klarifikasi resmi menanggapi perbincangan yang berkembang di sejumlah media terkait kegiatan pembelajaran luar sekolah. Sekolah menegaskan bahwa kegiatan tersebut dilaksanakan sebagai kunjungan industri, meskipun di tengah masyarakat muncul anggapan bahwa kegiatan tersebut menyerupai study tour.

Kepala Sekolah SMKN 1 Kalianda, Kepala Sekolah SMKN 1 Kalianda Drs. Kalimo, MM. saat dikonfirmasi melalui pesan WhatsApp, menegaskan bahwa kegiatan tersebut adalah Kunjungan Industri (KI), bukan sekadar study tour atau perjalanan wisata sebagaimana yang ramai dibicarakan publik.

​”Kegiatan ini adalah program kunjungan industri yang disesuaikan dengan tujuan pembelajaran. Kami perlu meluruskan bahwa ini bukan study tour untuk tujuan rekreasi,” ujar Kalimo dalam keterangannya, Senin (15/6/2026).

- Advertisement -

Bersifat Opsional dan Transparan

Kalimo menekankan bahwa sejak awal perencanaan, sekolah telah menetapkan bahwa kegiatan tersebut bersifat tidak wajib. Partisipasi siswa sepenuhnya didasarkan pada pilihan pribadi masing-masing dengan persetujuan orang tua.

​”Siswa yang memilih tidak mengikuti kegiatan karena pertimbangan pribadi atau alasan lain, tidak akan menerima konsekuensi apa pun. Kegiatan ini sifatnya opsional dan tidak mengikat,” tegasnya.

​Terkait biaya sebesar Rp2.300.000 per orang, pihak sekolah menyatakan telah memberikan rincian transparan kepada orang tua. Besaran biaya tersebut telah disesuaikan dengan jarak tempuh, durasi kegiatan, lokasi tujuan (Jakarta, Sukabumi, Yogyakarta, serta lokasi pendukung lainnya), serta mencakup kebutuhan akomodasi dan operasional melalui pihak penyedia jasa perjalanan (travel agent).

Kepedulian terhadap Siswa

- Advertisement -

Menanggapi adanya siswa yang terkendala biaya, pihak sekolah mengakui telah menerima permohonan keringanan. Kalimo menyebutkan bahwa sekolah berupaya membantu secara sukarela berdasarkan azas kemanusiaan.

​”Bantuan keringanan yang kami berikan bukan kebijakan formal yang mengikat, melainkan bentuk kepedulian kami agar siswa yang membutuhkan tetap bisa mengikuti program pembelajaran ini sesuai dengan batas kemampuan sekolah,” tambahnya.

Data Peserta Terukur

- Advertisement -

Berdasarkan data resmi pihak sekolah, total peserta kegiatan berjumlah di bawah 400 orang. Rombongan tersebut menggunakan 8 unit bus dengan kapasitas yang tidak terisi penuh, serta didampingi oleh guru dan kru teknis. Komposisi peserta mencakup gabungan dari beberapa kelas, 24 siswa kelas 8, serta peserta praktik kerja lapangan (PKL).

​”Seluruh rangkaian perjalanan dilakukan melalui kerja sama dengan pihak penyedia jasa agar kegiatan berjalan tertib dan lancar. Kami menegaskan bahwa kegiatan ini dilaksanakan secara proporsional, transparan, dan sesuai dengan ketentuan yang berlaku, dengan tetap mengedepankan kepentingan pembelajaran peserta didik,” pungkas Kalimo.(Red)

Share This Article
Tidak ada komentar