![]()
LAMPUNGID.COM,kalianda— Pemerintah Kabupaten Lampung Selatan memperkuat berbagai langkah untuk menghadapi musim kemarau yang diperkirakan berlangsung cukup panjang. Upaya utama diarahkan pada penyelamatan lahan pertanian, terutama kawasan sentra yang masih memiliki sumber air dan berpotensi dipertahankan hingga masa panen.
Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan (TPH-Bun) Kabupaten Lampung Selatan, Mugiyono, S.P., M.M., mengatakan kondisi kemarau saat ini cukup ekstrem sehingga tidak seluruh areal pertanian dapat diselamatkan.
“Memang tidak semua daerah bisa terselamatkan karena berkaitan dengan sumber air. Tetapi kita mencoba menyelamatkan daerah-daerah sentra yang masih memiliki sumber air dan bisa dimanfaatkan,” ujar Mugiyono.
Sejumlah wilayah menjadi prioritas penanganan, di antaranya Kecamatan Palas, Candipuro dan sebagian Sidomulyo, karena merupakan kawasan sentra pertanian.
Palas Jadi Fokus Penyelamatan 8.000 Hektare
Kecamatan Palas menjadi salah satu wilayah yang mendapat perhatian serius. Keterbatasan pasokan air menjadi persoalan utama, terutama karena jaringan irigasi yang direncanakan untuk melayani Lampung Selatan dari Bendung Gerak Jabung belum terealisasi sebagaimana rencana awal.
Mugiyono menjelaskan, kondisi tersebut menyebabkan pasokan air untuk sejumlah lahan pertanian di Lampung Selatan sangat terbatas. Saat ini, bukaan air untuk wilayah Lampung Selatan disebut hanya sekitar 10 Cm.
Pemkab Lampung Selatan telah berkoordinasi dengan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS). Namun, berdasarkan pengecekan teknis, debit air yang tersedia belum memungkinkan dilakukan pembukaan lebih besar.
“Kalau dibuka lebih besar, airnya banyak yang terbuang di aliran sungai. Sementara Lampung Timur yang memang menjadi daerah layanan juga terancam. Karena itu, untuk Lampung Selatan saat ini dibuka sekitar 10 sentimeter,” jelasnya.
Sebagai langkah darurat, Pemkab Lampung Selatan menyiapkan pompanisasi dengan memanfaatkan titik-titik sumber air yang masih tersedia di sepanjang aliran Way Sekampung.
Sekitar lima titik pompa direncanakan disiapkan. Air dari titik yang masih memungkinkan akan disedot dan dialirkan menuju saluran primer untuk kemudian diteruskan ke areal persawahan.
Sistem tersebut diharapkan dapat membantu wilayah Sinar Pasma, Bumi Jaya, Bumi Restu, Pulo Jaya hingga Palas.
“Ini merupakan upaya kita karena fokusnya adalah menyelamatkan pertanian di Lampung Selatan. Kita rencanakan beberapa titik pompa besar agar air bisa langsung masuk ke saluran primer,” kata Mugiyono.
Melalui langkah tersebut, pemerintah menargetkan sekitar 8.000 hektare lahan pertanian di Palas dan sekitarnya dapat terbantu dan terhindar dari ancaman gagal panen.
Bupati Egi Beri Perhatian Khusus
Persoalan kekeringan dan keterbatasan air tersebut juga mendapat perhatian khusus dari Bupati Lampung Selatan Radityo Egi Pratama.
Mugiyono mengatakan, setelah menerima laporan mengenai kondisi pertanian di lapangan, pihaknya langsung melakukan koordinasi dengan Kepala BBWS untuk mencari solusi terhadap keterbatasan air.
“Begitu kita laporkan kepada Pak Bupati bahwa kondisinya seperti ini, kaitannya dengan Bendung Gerak Jabung, kami langsung koordinasi dengan Kepala BBWS,” ujarnya.
Hasil pengecekan teknis menunjukkan debit air memang belum mencukupi untuk memenuhi seluruh kebutuhan pertanian. Karena itu, pompanisasi menjadi salah satu solusi darurat yang didorong untuk menyelamatkan lahan yang masih memungkinkan mendapatkan sumber air.
Pihak BBWS juga disebut akan memberikan dukungan terhadap upaya tersebut.
Saat ini Dinas TPH-Bun Lampung Selatan masih melakukan identifikasi titik-titik di sepanjang aliran Way Sekampung yang memungkinkan dilakukan penyedotan.
“Mulai dari Bumi Jaya, Pulo Jaya, Bumi Restu dan titik-titik lainnya, kita identifikasi mana yang masih memungkinkan untuk dilakukan penyedotan air. Hasil identifikasi tersebut nantinya akan kita sampaikan kepada BBWS untuk ditindaklanjuti,” jelas Mugiyono.
PLN Didorong Dukung Pompanisasi
Selain ketersediaan sumber air, dukungan energi listrik menjadi bagian penting dalam menjalankan sistem pompanisasi.
Menurut Mugiyono, kebutuhan daya listrik untuk operasional pompa juga tengah dikoordinasikan dengan PLN. Pihak PLN Lampung disebut telah turun melakukan pengecekan di lapangan.
Dengan dukungan listrik tersebut, pompa berkapasitas besar diharapkan dapat bekerja maksimal mengalirkan air menuju saluran primer dan selanjutnya ke lahan pertanian.
Percepatan Tanam Antisipasi Puncak Kemarau
Dinas TPH-Bun juga telah mendorong petani melakukan percepatan tanam sebagai salah satu strategi menghadapi puncak kemarau.
Jika sebelumnya penanaman dilakukan pada Juli, petani didorong untuk memajukannya menjadi Juni agar fase tanaman yang membutuhkan banyak air tidak bertepatan dengan puncak kemarau pada Agustus.
“Waktu tanam kita majukan, kita percepat. Kalau tanamnya mundur, kebutuhan air justru jatuh pada Agustus, saat kondisi kemarau sedang puncak. Kalau tanaman baru berumur satu sampai dua bulan, justru sedang membutuhkan banyak air,” jelas Mugiyono.
Dengan percepatan tanam, saat memasuki Agustus sebagian tanaman sudah berusia lebih dari tiga bulan dan mulai mendekati masa panen.
Untuk tanaman yang sudah mendekati panen, petani diimbau menggunakan air secara bijak dan lebih mengutamakan menjaga kelembaban tanah.
“Memang mungkin hasil panennya tidak maksimal, tetapi yang penting kita tidak mengalami gagal panen. Jadi yang kita jaga adalah kelembaban tanah agar tanaman tidak sampai kering,” katanya.
Palas dan Seragi Masih Menjadi Perhatian
Kondisi berbeda terjadi di wilayah Palas dan Seragi. Saat persiapan tanam, sebagian wilayah masih mengalami genangan akibat sisa banjir sehingga petani tidak dapat melakukan percepatan tanam.
Akibatnya, sebagian tanaman di wilayah tersebut baru memasuki masa pertumbuhan dan membutuhkan perhatian lebih terhadap ketersediaan air.
“Yang baru benar-benar tanam itu memang kawasan Palas, khususnya. Waktu itu masih tergenang sisa-sisa banjir sehingga mereka tidak bisa melakukan percepatan tanam. Makanya sekarang kita upayakan penyelamatan,” ujar Mugiyono.
Selain Palas, Candipuro dan sebagian Sidomulyo juga menjadi wilayah prioritas karena merupakan sentra pertanian.
“Kalau sampai daerah sentra ini tidak terselamatkan, dampaknya akan besar sekali terhadap hasil pertanian. Karena itu kita fokus melakukan penanganan di Candipuro, sebagian Sidomulyo dan Palas,” jelasnya.
Kemarau Diperkirakan hingga Akhir Tahun
Mugiyono menyampaikan, berdasarkan perkiraan sementara, Lampung Selatan masih berpotensi mengalami kemarau hingga akhir tahun.
Datangnya musim hujan di Lampung biasanya bergerak dari wilayah Pesisir Barat, kemudian Tanggamus, Pringsewu, Pesawaran dan selanjutnya Lampung Selatan.
Karena itu, Lampung Selatan diperkirakan baru memasuki musim hujan sekitar akhir tahun atau Desember. Namun, perkiraan tersebut masih dapat berubah dan perkembangan tetap mengacu pada informasi BMKG.
“Ini masih perkiraan. Nanti kita lihat perkembangannya seperti apa. Yang jelas, ini menjadi pekerjaan rumah besar, khususnya untuk sektor pertanian,” kata Mugiyono.
Selain penanganan darurat melalui pompanisasi, Pemkab Lampung Selatan juga akan kembali mendorong realisasi jaringan irigasi yang sejak awal direncanakan untuk melayani wilayah Lampung Selatan.
Mugiyono mengatakan, apabila jaringan tersebut terealisasi, air dari Bendung Gerak Jabung tidak hanya memberikan manfaat bagi Lampung Timur, tetapi juga dapat dialirkan untuk memenuhi kebutuhan pertanian Lampung Selatan.
“Memang rencana awalnya seperti itu. Tapi dulu sempat belum terealisasi. Nanti kita coba dorong lagi. Karena kalau itu terealisasi, manfaatnya akan sangat besar,” ujarnya.
Menurut Mugiyono, pompanisasi merupakan solusi darurat untuk menghadapi kondisi saat ini, sementara jaringan irigasi permanen menjadi kebutuhan strategis jangka panjang untuk menjamin ketersediaan air bagi sektor pertanian Lampung Selatan.
Mugiyono mengimbau petani agar berhati-hati menentukan pola tanam, menggunakan air secara bijak, menjaga kelembaban tanah serta terus berkoordinasi dengan petugas pertanian di lapangan.
“Yang penting sekarang kita sama-sama menjaga tanaman yang sudah ada. Air yang tersedia kita manfaatkan seoptimal mungkin. Pemerintah akan terus berupaya mencari solusi agar tanaman masyarakat bisa diselamatkan sampai panen,” pungkasnya.
Pemkab Lampung Selatan memastikan berbagai langkah terus dilakukan, mulai dari percepatan tanam, pemanfaatan sumber air, pompanisasi, dukungan listrik PLN, koordinasi dengan BBWS hingga mendorong kembali realisasi jaringan irigasi.
Langkah tersebut diharapkan mampu menekan dampak kemarau ekstrem sekaligus menjaga produktivitas pertanian, sehingga ancaman gagal panen secara luas dapat ditekan dan ribuan hektare lahan pertanian masyarakat tetap terselamatkan.(red)
