Adu Argumen Warnai Upaya Wartawan Wawancarai Hasil Rukyatul Hilal, Humas Kanwil Kemenag Lampung Disorot

3 Min Read

LAMPUNGID.Com, Lampung selatan — Upaya awak media memperoleh informasi resmi terkait hasil Rukyatul Hilal Ramadan 1447 Hijriah di pusat observasi bulan Bukit Gelumpai, Desa Canggung, Kecamatan Rajabasa, Selasa (17/2/2026), diwarnai adu argumen antara wartawan dan pihak Humas Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Lampung.

Sikap Ketua Tim Humas Kanwil Kemenag Lampung, Alifah, menjadi sorotan setelah diduga membatasi akses wawancara terhadap salah satu wartawan yang hendak menjalankan tugas jurnalistik di lokasi kegiatan resmi pemerintah tersebut.

Peristiwa bermula saat Hasanuddin, wartawan Media Tiga Pena, berupaya meminta keterangan resmi terkait perkembangan hasil pengamatan hilal.

“Maaf, saya dari media Tiga Pena, boleh wawancara? Kepada siapa saya bisa meminta keterangan,” ujar Hasanuddin kepada salah satu petugas Kanwil Kemenag Lampung di lokasi observasi.

Petugas tersebut kemudian meninggalkan lokasi dan kembali bersama Alifah.

Namun, alih-alih langsung memberikan akses informasi, Alifah justru mempertanyakan identitas serta tujuan wawancara secara berulang.

“Siapa, dari mana, dan apa yang ingin ditanyakan,” ucap Alifah.

Meski Hasanuddin telah memperkenalkan diri dan menjelaskan maksud kedatangannya untuk memperoleh informasi publik terkait hasil Rukyatul Hilal, respons yang diterima dinilai kurang kooperatif.

“Maaf Ibu, saya dari media Tiga Pena ingin wawancara terkait perkembangan hasil kegiatan hari ini,

”jelas Hasanuddin.Namun, Alifah menyampaikan bahwa sesi wawancara sebelumnya telah dilakukan bersama sejumlah media lain.

“Tadi sudah dilakukan wawancara bersama tim dan media organisasi,” ujarnya.


Diketahui, sesi wawancara tersebut dilakukan oleh Kepala Kanwil Kemenag Provinsi Lampung.


Situasi sempat memanas akibat perdebatan singkat tersebut. Setelah beberapa saat, Alifah akhirnya mengarahkan awak media untuk mewawancarai tenaga teknis Rukyatul Hilal Provinsi Lampung, Hamdun.

Dalam keterangannya, Hamdun menjelaskan bahwa proses pengamatan hilal masih berlangsung dan hasilnya akan dilaporkan ke pusat setelah observasi selesai.“Saat ini masih dalam proses.

Hasilnya menunggu matahari terbenam dan pengamatan selesai, baru kemudian dilaporkan ke pusat,” jelasnya.

Ia juga mengungkapkan bahwa secara astronomis peluang hilal terlihat pada hari tersebut sangat kecil.

“Posisi hilal masih minus, sehingga potensi terlihat sangat kecil,” ujarnya.

Menurut Hamdun, berdasarkan kriteria Menteri Agama, hilal dapat terlihat apabila memiliki ketinggian minimal 3 derajat dan elongasi minimal 6,4 derajat.

“Sementara posisi hilal hari ini berada di kisaran minus 1,3 derajat,” tambahnya.

Lebih lanjut, Hamdun menegaskan bahwa penetapan awal Ramadan 1447 Hijriah tetap akan ditentukan melalui sidang isbat berdasarkan laporan hasil pengamatan hilal dari seluruh wilayah Indonesia.

“Perbedaan jangan dijadikan persoalan. Dalam fiqih, perbedaan itu memang diberikan ruang,” tutupnya.

Peristiwa ini menjadi perhatian publik terkait keterbukaan informasi, mengingat kegiatan Rukyatul Hilal merupakan agenda resmi pemerintah yang menyangkut kepentingan luas masyarakat dan seharusnya dapat diakses secara transparan oleh seluruh awak media sebagai bagian dari fungsi kontrol sosial dan penyampaian informasi kepada publik.

(Red)

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Sory bro, berita ini gak bisa di copy paste !!!
Exit mobile version