LampungID.Com,Lampung Selatan — Ketua Lembaga Nata Bangsa, Ir. Toto Priyana, M.M., menegaskan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, media, dunia pendidikan, dan masyarakat dalam memperkuat sektor pariwisata serta ekonomi kreatif di Lampung Selatan.
Menurutnya, arah pembangunan yang dijalankan Bupati Lampung Selatan Radityo Egi Pratama, S.T., M.B.A., melalui konsep agro-eduwisata merupakan langkah strategis yang mampu memadukan kekuatan utama daerah: pertanian, pendidikan, dan pariwisata.
“Pak Bupati sangat tepat. Lampung Selatan kuat di bidang agro dan edukasi. Bila dikembangkan secara terpadu menjadi agro-eduwisata, ini bukan hanya soal destinasi wisata, tapi juga membangun kesadaran masyarakat terhadap potensi ekonomi lokal,” ujar Toto Priyana.
Ia menjelaskan, konsep agro-eduwisata tidak hanya menawarkan keindahan alam atau hasil pertanian, tetapi juga nilai edukatif yang memberi pengalaman belajar kepada pengunjung. Kolaborasi antara petani, pelajar, akademisi, dan pelaku usaha di dalamnya akan mendorong munculnya inovasi baru berbasis potensi lokal.
“Wisata yang mengedukasi membuat masyarakat dan wisatawan sama-sama tumbuh. Anak-anak bisa belajar tentang pertanian, teknologi, dan budaya lokal, sementara ekonomi warga bergerak,” tambahnya.
Toto menegaskan bahwa kunci keberhasilan konsep tersebut adalah penerapan model Penta Helix, yakni sinergi lima unsur: pemerintah, akademisi, dunia usaha, komunitas, dan media.
“Di sini, peran media sangat penting. Media menyuarakan aspirasi, mengedukasi publik, dan mendorong kemajuan pembangunan. Media menjadi pionir yang menggerakkan kesadaran dan partisipasi masyarakat,” jelasnya.
Ia juga menekankan perlunya keseimbangan dalam fungsi media: 80 persen berfokus pada pemberitaan pembangunan dan pendidikan bangsa, serta 20 persen untuk kritik dan saran yang konstruktif.
“Media bukan hanya pemberita, tapi mitra strategis pembangunan,”Kritik penting, tapi yang utama adalah memberi pencerahan dan semangat kemajuan,” tegasnya.
Sebagai tokoh pendidikan yang telah lima tahun mengelola SMA Kebangsaan dan Universitas Indonesia Mandiri (UIM) di Lampung Selatan, Toto menyampaikan kebanggaannya terhadap kemajuan dunia pendidikan di daerah tersebut.
“Siswa SMA Kebangsaan kini berasal dari 29 provinsi di Indonesia, dari Aceh hingga Papua. Bahkan ada mahasiswa dari Timor Leste yang menimba ilmu di Lampung Selatan.
Ini bukti bahwa Lampung Selatan telah menjadi pusat edukasi dan memiliki potensi besar untuk terus berkembang,” ujarnya.Toto juga mendukung program Bupati yang menekankan lima aspek utama pariwisata — keamanan, kenyamanan, keramahan, fasilitas, dan daya tarik.
“Jika wisatawan merasa aman, nyaman, dan dilayani dengan ramah, mereka akan betah. Ketika betah, mereka akan membeli produk lokal sebagai oleh-oleh, dan otomatis ekonomi masyarakat ikut tumbuh,” terangnya.Lebih lanjut, Toto menilai bahwa inovasi merupakan kunci agar wisatawan ingin kembali berkunjung.
“Kita perlu menghadirkan ide-ide baru yang menggabungkan wisata alam, edukasi, dan budaya lokal. Dengan kolaborasi yang kuat, Lampung Selatan bisa menjadi destinasi wisata yang nyaman, mendidik, dan berkesan,” pungkasnya.
Tentang Model Penta Helix Model Penta Helix menggambarkan sinergi lima pilar pembangunan:
1. Pemerintah (Government) — pembuat kebijakan dan fasilitator pembangunan.
2. Akademisi (Academia) — penghasil riset, data, dan inovasi ilmiah.
3. Dunia Usaha (Business) — motor penggerak ekonomi investasi dan pariwisata
4. Media penyebar informasi, edukator publik, dan pembentuk opini positif.
5. Masyarakat pelaku utama sekaligus penjaga nilai dan budaya lokal.Tujuan utama model ini adalah menciptakan kolaborasi lintas sektor agar pembangunan berjalan efektif, inovatif, dan berkelanjutan bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi menjadi gerakan bersama seluruh elemen masyarakat.(red)
